Senin, 09 Januari 2012

Dampak Urbanisasi Terhadap Ruang Perkotaan

Urbanisasi,sebagai proses yang dialami oleh suatu kawasan untuk lebih “mengkota” terus dialami oleh daerah-daerah di Indonesia dan hal ini terus mengalami peningkatan. Perkembangan urbanisasi di Indonesia dapat diamati dari 3 (tiga) aspek : pertama, jumlah penduduk yang tinggal di kawasan perkotaan (kini mencapai 120 juta dari total 230 juta jiwa); kedua, sebaran penduduk yang tidak merata (hampir 70% di Pulau Jawa dengan 125 juta jiwa dan di Pulau Sumatera dengan 45 juta jiwa); serta, ketiga, laju migrasi penduduk desa ke kota yang tinggi, dimana kota-kota metropolitan, seperti : Jakarta (termasuk Bekasi, Bogor dan Tangerang), Surabaya, Bandung, Medan, Palembang, dan Makassar, merupakan magnet utamanya. Selain itu terjadi peningkatan jumlah kota di Indonesia periode tahun 1970-2010. Pada awal tahun 1970, hanya terdapat 45 kota otonom saja, namun pada tahun 2010 telah berkembang menjadi 98 kota otonom. Artinya dalam 40 tahun terakhir, jumlah kota telah meningkat 2 (dua) kali lipat. Khususnya dalam 10 tahun terakhir (2000 – 2010), telah lahir 25 kota otonom baru sebagai hasil pemekaran wilayah dengan maksud untuk meningkatkan pelayanan publik.

Pada masa yang akan datang, diperkirakan fenomena urbanisasi ini akan terus meningkat, baik karena pertumbuhan penduduk kota itu sendiri, migrasi penduduk desa ke kota, maupun karena pemekaran wilayah. Hal ini tentu berdampak pada perubahan ruang perkotaan itu sendiri baik secara fisik maupun sosial yang berlangsung cepat dan tidak mudah untuk dikelola. Sementara itu secara bersamaan tumbuhnya suatu kawasan menjadi lebih modern berdampak pada menurunnya kualitas lingkungan yang berdampak pada menurunnya kualitas kehidupan di perkotaan. Kemacetan yang semakin akut, banjir tiap tahun yang bahkan semakin parah, penyediaan air tidak layak minum, polusi air dan udara, serta peningkatan kawasan kumuh perkotaan menjadi hal yang lumrah terjadi di kota-kota di Indonesia. Dua sisi pembangunan perkotaan yang saling bertolak belakang ini disebut oleh para ahli sebagai “the urban paradox”.

Dengan kondisi seperti yang telah disebutkan di atas, yang akan menjadi korban pertama adalah penduduk miskin perkotaan. Penduduk miskin menjadi kelompok sosial yang sangat rentan terhadap berbagai bencana perkotaan, antara lain : banjir, kebakaran dan penyebaran wabah penyakit. Selain itu semakin sulitnya akses yang didapat masyarakat miskin tersebut untuk pelayanan dasar perkotaan seperti fasilitas permukiman, penduduk miskin tersebut mendiami hunian kumuh yang sangat padat (slums dan squatters) di ruang-ruang sempit perkotaan yang sama sekali tidak layak huni. Dan hal ini semakin memperjelas bentuk-bentuk kesenjangan yang terjadi di kawasan perkotaan.

Sementara itu proses urbanisasi ini terus-menerus terjadi tanpa bisa dicegah karena di sisi lain kota merupakan katalis pertumbuhan ekonomi yang utama. Kota dipandang dapat meningkatkan taraf hidup sehingga urbanisasi menjadi pilihan rasional manusia untuk mencapai kesejahteraan. Pada taraf ini kita lupa bahwa kualitas hidup tidak melulu dapat dicapai dengan peningkatan ekonomi. Akan tetapi juga kualitas lingkungan dan sosio-kultur yang baik.

Sebenarnya pentingnya mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan sudah lama disadari, hal ini ditandai dengan munculnya konsep kota berkelanjutan (Sustainable city) yang memadukan ketiga aspek tersebut untuk mencapai keseimbangan sehingga tercipta kenyamanan untuk hidup di kawasan perkotaan bagi penghuninya. Dalam kota berkelanjutan, yang menjadi indikator utama bukan hanya kualitas lingkungan. Ada 3 indikator utama pada konsep kota berkelanjutan yaitu faktor dampak pembangunan kota terhadap lingkungan (khususnya dalam penggunaan sumberdaya dan tingkat polusi yang dihasilkan), kualitas hidup penghuni kota, dan bagaimana kota tersebut mempersiapkan kotanya untuk masa depan yang berkelanjutan.

Diharapkan, untuk selanjutnya peningkatan urbanisasi juga diimbangi dengan terealisasinya konsep kota berkelanjutan ini agar tercipta kota yang nyaman dihuni tidak hanya pada saat ini akan tetapi juga untuk generasi mendatang.





Daftar pustaka :
Ernawi, Imam. S, Morfologi – Transformasi dalam Ruang Perkotaan yang Berkelanjutan, Paparan yang disampaikan dalam Seminar dengan tema “Morfologi – Transformasi dalam Ruang Perkotaan yang Berkelanjutan”, diselenggarakan oleh Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro (UNDIP),Semarang, 20 November 2010.
 
 
 
 
 
 

6 komentar:

  1. artikelnya bagus, yang mau saya tanyakan disini solusi apakah yang tepat untuk mengatasi urbanisasi di Indonesia, mengingat program KB yang selama ini dijalankan kurang begitu berdampak besar terhadap laju pertumbuhan penduduk??

    BalasHapus
  2. artikel yg anda buat sgt menarik dan mudh di pahami....lanjutkn sisssttt....

    BalasHapus
  3. menurut anda bagaimana solusi yg anda bisa berikan untuk mengatasi atau mungkin mengurangi dampak negatif urbanisasi ini ? dan bagaimana sikap pemerintah dalam menyikapi hal ini? apa sudah ada sikap tegas oleh pemerintah dalam mengatasi dampak urbanisasi terhadap ruang perkotaan ini?

    BalasHapus
  4. Artikel ini mengingatkan kita pada keadaan umum beberrapa kota di Indonesia. Kata orang, wajar apabila di negara berkembang terjadi hal seperti ini. Namun apakah masih dianggap wajar ketika ledakan penduduk yang kemudian menyebabkan hilangnya fungsi kota tersebut benar-benar kelewat batas?
    Solusi konkrit mungkin agak sulit diterapkan, namun harus ada pengendalian sebelum kota tersebut mengalami disfungsi kekotaannya dan berakibat lanjut pada urban sprawl.

    BalasHapus
  5. setuju dengan ratiza bentuk pengendalian harus ada..namun beda perlakuan antara pengendalian tat ruangnya sendiri dan pengendalian ledakan penduduk..

    BalasHapus